Hai orang-orang yang berselimut (Muhammad), Bangunlah (untuk sholat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya ), yaitu seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit”. (Al Muzzamil 78 : 1 – 3).
Ayat diatas pada awalnya menyaeratkan bahwa sholat malam adalah sebuah kewajiban bagi orang beriman. Untuk menyiapkan mentalitas dan moralitas (quwwatul ma’nawiyah) dalam menghadapi ujian atau tantangan hidup, tribulasi atau pahit getirnya liku-liku dakwah, maupun perintah-perintah yang dibebankan Alloh kepada manusia maka aktifitas ini seharusnya sudah menjadi rutinitas setiap muslim. Firman-Nya :
“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat”.(QS. 73 : 5).
Sepertiga malam terakhir adalah waktu yang amat tepat dimana kesepian dan keheningan tercipta. Saat-saat manusia sedang lelap pada istirahatnya. Sebuah suasana sangat mendukung untuk berbisik-bisik, berdialog dengan Alloh. Orang akan lebih khusyu, lebih berkonsentrasi dan lebih berkesan bacaannya didalam kesunyian dibanding pikuk atau celoteh manusia setiap detik terdengar.
“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan”. (QS. 73 : 6).
Disamping Susana siang yang ramai, biasanya manusia disibukkan oleh kegiatan-kegiatan hidupnya dan urusan-urusan yang tiada habis-habisnya. Hal ini, sedikit bamyak akan menyita waktu dan perhatiannya sehingga konsentrasi orangpun akan pilah-pilah.
“Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak)”. (QS. 73 : 7).
Kemudian, pada ayat terakhir pada surat Al Muzzamil diatas Alloh memberi keringanan bahwa sholat malam (qiyamul lail) bukan merupakan suatu kewajiban namun hanya sunat atau sebagai nafilah (ibadah tambahan) saja.
“Alloh mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menemukan batas-batas waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu…………..”(QS. 73 : 20 )
“Dan pada bagian malam hari sholat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu : mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. (QS. 17 : 79)
Walaupun qiyamul lail sebagai ibadah tambahan atau sunat, tidak berarti terus ditinggalkan begitu saja, dengan anggapan “toh tidak mengerjakan juga tidak berdosa”. Pikiran semacam ini adalah. Apabila orang komitmen terhadap syahadah Rosul yang menjadikan Rasululloh sebagai panutan dan teladan seharusnya segala ucapan mereka kita ikuti dan perawatannya seoptimal mungkin. Kita contoh. Kaitannya dengan sholat malam ini, beliau bersabda :
“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa bulan Muharram, dan sholat yang paling utama setelah sholat fardlu adalah pada waktu sholat malam”. (HR. Muslim).
Sepanjang kehidupannya, Rosulullah tidak pernah meninggalkan perintah ini. Demikian pula para Sahabatnya seakan-akan telah menjadikan “kewajiban” atas mereka. Mereka menjaganya dan berusaha dengan sungguh-sungguh agar senantiasa dapat melaksanakannya. Pernah suatu malam Rosulullah mengetuk pintu rumah menantunya, Ali bin Abi Thalib, seraya berkata : “ Mengapa kalian tidak mengerjakan sholat ?” Kepada Abdullah bin ‘Amr bin Al’ash, Rasululloh menasehati :” Wahai Abdullah, janganlah kamu seperti Fulan, dia bangun pada waktu malam tetapi tidak mengerjakan sholat sunat pada waktu malam”.
Alloh sangat cinta dan mengasihi orang-orang yang sedikit tidur dan selalu menegakkan sholat malam. Bagi golongan ini Alloh memuji mereka dengan sebutan orang-orang yang selalu ingat kepada-Nya (dzikrullah). Rasululloh SAW. Bersabda :
“Alloh sangat mengasihi seorang laki-laki yang bangun pada waktu malam kemudian mengerjakan sholat dan ia mau membangunkan isterinya; bila istrinya enggan untuk bangun maka ia memercikan air ke muka isterinya itu. Alloh sangat mengasihi perempuan yang bangun pada waktu malam kemudian mengerjakan sholat dan ia mau membangunkan suaminya. Bila suaminya enggan untuk bangun maka ia memercikkan air pada muka suaminya”. (HR. Abu Dawud)
Pada riwayat lain dikatakan :”……………….”maka masing-masing dicatat dalam orang-orang yang selalu dzikir kepada Alloh”.
Penyebutan orang-orang beriman kepada ayat-ayat-Nya, dihubungkan pula dengan sedikit tidur”. Lambang mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Robbnya dengan rasa takut dan harap……………”(QS. 32 : 16)
.
Demikian pula predikat hamba-hamba yang baik dari Robb yang Maha Penyayang (‘ibadurrahman), Dan orang-orang yang melalui malah ????dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb m,ereka”. (QS. 25 : 64).
Dan calon-calon penghuni surga atau orang bertaqwa juga tidak lepas dari ciri ini, yakni : “ Mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan akhir-akhir malam mereka memohon (kepada Alloh)”. (QS. 51 : 17 – 18 ).
Rosulullah pun mengingatkan :
“Wahai sekalian manusia sebar luaskan ucapan salam, berikanlah makanan dan sholatlah kamu sekalian pada waktu malam sewaktu sedang tidur,niscaya kamu akan masuk surga dengan selamat”. (HR. At Turmudzi).
Demikian besarnya keutamaan dan balasan yang diberikan Alloh kepada hamba-hamba-Nya, tinggal sang hamba mau meraih apa tidak. Secara dhahirlah (duniawi) saja Alloh akan membantu menyelesaikan permasalahan dan memberikan jalan keluar manusia, jika mereka mau meminta kepada-Nya. Segala problematika hidup, beban pikiran, kesempatan yang menggayut didada, kesusahan yang menimpa, rasa gelisah serta perasaan lainnya, hanya Dialah satu-satunya Yang Maha Tahu penyelesaiannya. Dia-lah satu-satunya yang mampu untuk mengobatinya. Mengapa kita begitu enggan datang kepada-Nya ?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar